Sabtu, 10 Maret 2012

Pelembut Hati

PELEMBUT HATI 
Ujian Dengan Kenikmatan
Dari Ibnu Abbas Radiallahu Anhuma berkata Rasulullah saw bersabda “ Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia adalah nikmat sehat dan nikmat waktu lapang (HR.Bukhari).
Hakekat Kehidupan.
Allah telah menciptakan manusia didunia dalam rangka untuk diuji, hal tersebut Allah ungkapkan dalam surah Tabarak  ayat 2 “ Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalnya,Dia maha mulia dan maha pengampun”. Dan manusia semua dalam ruangan ujian yang mencakup semua alam semesta ini.
Dan di sana ada pengawas yang selalu mencatat seluruh prilaku manusia baik yang kecil maupun yang besar. “ Tidak terucap sebuah perkataan kecuali akan di catat oleh Raqib dan Atid (QS.Qof:18). Dan semua akan menjadi saksi,tubuh kita,bumi yang kita pijak,sesama manusia dan Allah pun akan menjadi saksi atas semua perbuatan yang kita lakukan.
Waktu Ujian.
Sedangkan waktunya, dilaksanakan sejak manusia mencapai umur akil baligh hingga kematian menjemputnya. Kalau seorang murid tahu berapa lama dia akan diuji karena ada batasan yang jelas. Sebaliknya manusia sama sekali tidak tahu kapan ujian tersebut berakhir. Seandainya seorang murid tdk diberitahu berapa lama pelaksanaan ujian tersebut dan kertas jawabannya akan diambil secara tiba-tiba maka pasti ia akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menjawab seluruh pertanyaan tanpa membuang-buang waktu. Begitu pula seorang muslim sudah seharusnya menggunakan setiap jenak waktunya untuk meraih kesuksesan dalam ujian di Dunia ini.
Sarana Ujian.
Seorang murid mengikuti ujian dengan menggunakan sarana pena dan kertas khusus ujian, sedangkan manusia di Dunia ini melaksanakan ujian dengan tubuhnya,waktunya,hartanya,pekerjaannya,ilmunya dan segala kemampuan dan kelebihan yang diberikan Allah kepada dia. Dan ujian tersebut akan mencakup pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1.      Perintah dan kewajiban yang harus dilaksanakan.
2.      Larangan  dan hal-hal yang haram yang harus di jauhkan.
3.      Kenikmatan yang harus di syukuri
4.      Musibah yang harus dia bersabar menghadapinya.
Hadits yang diatas mengingatkan kita akan ujian kenikmatan yang wajib disyukuri oleh manusia. Ketika berbicara tentang nikmat ada dua hal penting yang harus kita perhatikan:
1.      Bahwa nikmat yang Allah berikan kepada manusia sangat banyak, yang tidak mungkin manusia mampu menghitungnya. “ Apabila kalian mencoba menghitung nikmat Allah maka kalian tidak akan bias menghitungnya”(QS.16:18).
Seperti nikmat Iman,aqal,pendengaran,penglihatan,kesehatan,keturunan, harta, bahkan disetiap ruas mili tubuh kita ada nikmat Allah yang begitu banyak. SUBHANALLAH.
Diceritakan ada seorang fakir yang menadu kepada seorang ulama tentang kefakirannya,dia berkata bahwa Allah belum memberikan kepadanya nikmat sedikitpun. Maka Alim tersebut menjawab “ Maukah kamu menjual matamu dengan harga seratus juta? Orang itu menjawab: tidak ! maukah kamu menjual telingamu dengan seratus juta? Jwbannya: Tidak, maukah kamu menjual tanganmu dengan seratus juta? Tidak ! kembali org tersebut menjawab. Maukah kamu menjual kakimu dengan seratus juta ? tidak! Menjual akal mu denga harga yang sama? Tidak! , kemudian Alim tersebut berkata “ Kamu mengeluh tidak punya apa-apa??? Sedang kamu memiliki milyaran..?. maka orang tersebut jadi tahu bahwa nikmat yang bukan dalam harta lebih banyak. Dan nikmat Allah tidak bisa dihitung.
2.      Bahwa nikmat adalah ujian,walaupun dalam tampilannya nampak sebagai pemuliaan dan balasan,namun pada hakekatnya itu adalah ujian. “ Dan manusia apabila diuji oleh Rabnya dengan dimuliakan dan diberi nikmat maka ia akan berkata Tuhanku telah memuliakanku. Dan apabila diuji dengan kesusahan maka ia akan berkata Tuhanku telah menghinakanku, Sungguh tidak..” (QS.Al-Fajr 15-17). Dan QS.Zhukhruf :33-35.
Seandainya nikmat adalah bentuk pemuliaan Allah kepada manusia maka para Nabi dan Rasul tentunya akan menjadi manusia yang paling banyak mendapat nikmat,dan menjadi manusia paling kaya. Dan sebaliknya orang – orang kafir sama sekali tidak akan mempunyai apa-apa di Dunia ini. Dan hal itu bisa di analogikan seperti seorang guru yang membagikan buku kepada para muridnya, diantara para murid ada yang diberikan buku yang tebal,sedang dan tipis. Maka bergenbiralah murid yang diberikan buku yang besar sedangkan yang diberikan buku yang kecil bersedih. Setelah  pembagian selesai sang guru berkata “ Materi Ujian akan disesuaikan  dengan bobot buku yang diberikan kepada masing-masing murid”. Maka bergembirlah murid yang menerima buku yang kecil sebalik yang menerima buku yang besar sangat bersedih. Begitulah kenikmatan yang ada di dunia ini. Nikmat bukanlah pemuliaan tetapi dia adalah sebuah ujian maka itu nikmat tidak bisa dijadikan sebagai ukuran  untuk mengukur kedudukan manusia di sisi Allah SWT, namun ukuran yang tepat adalah iman dan amal shaleh. (QS.Al-Hujurat:13).

3.      Keberhasilan seseorang dalam menjalani ujian ini adalah dengan bersyukur  atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Dan syukur direalisasikan dalam beberapa macam:
a.       Syukur dengan hati. Yaitu dengan meyakini di dalam hati bahwa setiap nikmat yang ada adalah karunia dari Allah SWT.(QS.16:53). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda :“ Ketahuilah apabila seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat (kenikmatan) kepadamu maka mereka tidak akan memberikan manfaat kecuali apa yang Allah telah tetapkan untuk mu” (HR.Turmudzi).
b.      Sykur dengan Lisan, yaitu dengan memperbanyak ungkapan Alhamdulillah dan membicarakan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepadanya “ Dan dengan nikmat tuhanmu maka perbanyaklah menyebutnya” (QS.Dhuha:..) dengan tetap mewaspadai sikap riya, dan denga tujuan memberikan contoh kepada orang lain dalam melakukan amal khair. Dan bagian dari syukur dengan lisan juga adalah  dengan memperbanyak dzikir,tilawah,melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar dan mengajarkan ilimu.
c.       Syukur dengan Amal.Allah SWT berfirman “ Wahai keluarga Daud beramalah sebagai ungkapan rasa syukur,dan sangat sedikit  hamab-Ku yang mampu bersyukur”.(QS.Saba:15). Bersyukur dengan amal akan berbeda seiring dengan nikmat yang diberikan Allah kepada orang tersebut,apabila ia diberikan hidayah maka ia harus mengajak manusia untuk mendapatkan hidayah dengan segala kukatan yang dimiliki. Baransiapa diberikan akal yagn cerdas maka ia harus gunakan untuk belajar dan mengajar,dan memanfaatkannya untuk membantu menyelesaikan problematika kaum muslimin. Barangsiapa diberikan badan yang sehat dan kuat maka harus ia gunakan untuk menolong sesama dan berjuang dalam di jalan Allah. Dan barangsiapa diberikan harta maka ia harus gunakan dalam memperjuangkan agama Allah baik secara terang-terangan ataupu secara sembunyi. Inilah yang dinamakan dengan syukur dengan amal.
Ketiga jenis Syukur ini akan menyebabkan ditambahkannya nikmat dari Allah SWT. (QS.14:7). Dan sikap syukur juga akan menjadi sebab keselamatan seseorang di dunia ini, sebagaimana Allah SWT menyelamatkan Nabi Luth as dan orang-orang yang bersama dengan dia, hal itu karena mereka ternasuk orang yang banyak bersyukur kepada Allah SWT, (QS.Al-Qomar:34-35). Sedangkan di Akherat Allah katakana (QS.Ali Imran:135).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar